“Tak mungkin Allah
SWT memberikan bayi tanpa satu paket dengan ASInya”
Keberhasilan ASI
berkat dukungan suami bisa mencapai 98 %, tetapi jika tak ada dukungan suami
hanya 26 %. Begitu kalimat yang saya ingat tentang kesuksesan ibu dalam
memberikan ASI.
Baik saya akan
bercerita tentang pengalaman ASI si ading sang istri tersayang. ASI atau Air
Susu Ibu memang sangat mudah dikatakan, tetapi sulit untuk dijalankan. Begitu
banyak sudah tau manfaat ASI terhadap anak, tetapi banyak juga yang hanya
memberikan susu formula. Bagaimana dengan anda ?, apakah hanya menyakini tanpa
menjalankannya.
Suami menurut
saya, kunci penting dalam keberhasilan ASI. Tak boleh ditawar lagi, hukumnya fardu ain. Kok bisa ?. Coba bayangkan, menjadi seorang
ibu bukanlah kodrat yang mudah. Mulai dari proses hamil 3 bulan yang biasanya
dilalui dengan mual, muntah ataupun pusing. Lalu dilanjutkan dengan berat badan
yang “menggila” setiap bulannya. Jika diteruskan lagi, dengan persalinan. Ibu
harus meregang nyawa untuk mengeluarkan bayi kedunia. Ditambah harus memberikan
ASI. Bukan hal gampang. Luar biasa pengorbanan seorang ibu terhadap bayinya.
Jadi pantaslah kiranya, suami memberikan motivasi sebesar-besarnya kepada ibu,
agar memberikan ASI.
Saya akan
bercerita tentang pengalaman saya, mendorong dan menyemangati istri agar tetap
memberikan ASI kepada si kecil.
Sebelum
melahirkan, saya dan istri sudah baca berbagai info tentang pentingnya ASI bagi
bayi. Mulai dari membeli buku, hingga membaca blog-blog yang berhubungan dengan
ASI. Setidaknya, itu memberikan gambaran, bagaimana persiapan ketika si kecil
sudah lahir kedunia. Kondisi kami yang dua duanya bekerja, membuat kami harus
matang dalam perencanaan memberi ASI.
Tahap persiapan
Beberapa bulan
sebelum melahirkan, saya dan istri sudah mulai mencicil mengumpulkan botol
kaca. Layanan BBM saat itu sangat membantu. Kami hanya broadcast ke semua
kontak. Dan beberapa kawan merespon serta memberikan botol kaca yang tidak
terpakai untuk kami ambil.
Istri juga
hunting, produk pemerah ASI terbaik. Dipasaran sangat banyak alat perah ASI
yang harganya murah, tetapi kualitasnya san
gat buruk. Sepertinya kenyamanan ibu
kurang diperhatikan. Sehingga kami harus merogoh kocek dalam-dalam membeli
pemerah ASI, yang “katanya” seperti isapan si kecil. Ya kami pikir “ada harga,
ada rupa.” 
Persiapan
lainnya. Kami membeli beberapa nipple
yang berbeda bahannya. Mulai dari silicon sampai karet. Tujuannya jika
diberikan kepada si kecil, yang mana dia paling suka. Tak lupa kami membeli
semacam sendok susu, jika si kecil tak mau memakai nipple.
Itulah beberapa
persiapan yang kami berdua lakukan. Sangat asyik memang dan kami menikmatinya.
Belajar menjadi orang tua sungguh pengalaman yang luar biasa.
Setiap hari,
saya selalu katakan. Bahwa ASI itu hak anak dan pemberian Allah SWT. Jadi tak
mungkin tidak ada. Wong sudah hak, yang pasti dikasih satu paket bukan. Di
kasih si kecil plus ASInya. Itu kira-kira kata-kata yang selalu saya ingatkan kepada
istri.
Persalinan
Tulisan terdahulu
saya sempat bercerita tentang persalinan Si ading. Mengharu biru, penuh dengan
perjuangan hidup dan mati. Penuh dengan rasa sakit. Dan penuh dengan air mata
duka dan suka.
Ketika selesai
persalinan yang berlangsung sejak pukul 12 malam hingga 4 sore. Akhirnya si
kecil keluar juga. Tak tau rasanya bagaimana kala itu, semua bercampur aduk.
Senang, syukur, haru, tangis sudah teraduk dalam emosi dalam batin. Menyaksikan
sesosok manusia telah bernafas dibumi.
Ketika itu, Si
ading sudah tak berdaya. Persalinan normal yang berlangsung lebih dari 16 jam
membuat dia kelelahan. Kurang istirahat pastinya.
Kami bersikukuh
berdua, untuk memberikan ASI eksklusif kepada si kecil. Mertua menyarankan agar
memberikan susu formula dulu, alasannya ASI belum keluar. Saya dan istri tetap
pada keyakinan, jangan “dinodai” dahulu si kecil dengan susu buatan parbik.
Yang kami tau, bayi dapat bertahan 24 jam tanpa ASI. Itu yang kami yakini.
Kulihat si
ading, sudah mulai ada tenaga. Diambilnya si kecil lalu disusuinya. Tetapi si
kecil malah menangis sekencang-kencangnya. “Tak ada ASI yang keluar” katanya.
Saya lalu mengatak “Sabar, Tak mungkin Allah Swt memberikan bayi tanpa satu
paket dengan ASInya” ucapku.
Beberapa jam,
ASI tak kunjung ada. Sementara tangisan sikecil sudah meraung-raung kelaparan.
Mertua mendesak memberi susu sapi. Tapi kami kukuh dengan keyakinan kami, ASI
pasti ada. Memasuki hari berikutnya, perlahan ASI mulai keluar. Syukur tak
terkira yang kami rasakan. Akhirnya janji itu benar adanya. Kulihat si kecil sudah asyik dengan ASInya.
Istri menangis bahagia. Dan sayapun mengecup kening istri serta tersenyum
karena ASI telah disampaikan kepada yang berhak.
Itulah sepotong
cerita tentang perjuangan dalam memberikan ASI kepada si kecil alias jenderal
kancil kami. Saat ini, yang kami rasakan si kecil hampir jarang sekali sakit.
Rasanya bisa dihitung dengan jari sampai usia 21 bulan. Biasa hanya demam,
itupun jika diberikan ASI semalaman keesokan sudah sembuh.
Dilain waktu
saya akan bercerita tentang dahsyatnya ASI...
Semoga menginspirasi bagi pasangan yang akan mempunyai calon bayi....
1 comment:
ASI memang makanan yang utama yang penting buat pertumbuhan bayi. Kampanye ASI juga dipromosikan dengan gencar oleh Ibu Negara ANi Yudhoyono.
Anak saya yang pertama juga full ASI hingga usia 2 tahun. Sedangkan adiknya susu formula. Salam selalu dari kami sekeluarga di Pontianak. Kalimantan Barat
Post a Comment