![]() |
Ilustrasi, foto antara.com |
Pagi itu matahari
bersinar dibalik pohon bambu. Pancarannya menerangi rumah reot yang terbuat
dari sobetan. Atapnya nipah yang sudah tua. bocor disana-sini. Lantainya hanya
beralas tanah. Tak pantas dikatakan rumah, lebih pantas pondok reot. Dinding sudah
mulai termakan rayap. Disana sini terdapat bubuk kayu sisa hasil olahan rayap. Hanya
gambar kaligrafi kecil yang menghias dindingnya. Serta foto Almarhum suami terpanjang.
Pukul lima pagi,
tanganya sudah cekatan didapur. Memasak ala kadar untuk mengisi perut anak
diawal hari. Biasanya hanya singkong yang direbus dan teh manis. Dapurnya bukan
dihiasi kompor gas atau hock, hanya tungku tanah dan kayu bakar. Pemantiknya
pun bukanlah minyak tanah, tetapi plastik bekas minuman mineral.
Anaknya berjumlah
6 orang. Sejak ditinggal oleh Almarhum suami dia harus bekerja seorang diri. Anak
tersulung baru menginjak kelas 1 SMP sedangkan yang terkecil masih 8 bulan. Dunia
terasa runtuh ketika harus menerima kenyataan ini. jika tak kuat iman bisa berakhir
di rumah sakit jiwa. Tiga anaknya sudah bersekolah, sementara sisanya belum
cukup umur. Tak ada protes setiap pagi, ada ataupun tidak sarapan sudah menjawab
kemampuan Si emak.
Si Mak, memang
sudah cukup tua mempunyai anak yang terbesar baru SMP. Maklum 15 tahun menikah
baru dikaruniai anak. Ketika si sulung sudah dapat, ternyata dibelakangnya
sudah mengantri adik-adiknya. Si sulung memang pembuka jalan.
Ketika anak-anak
mulai berangkat sekolah. Si Mak mulai meraut asanya. Lidi daun nipah,dirautnya
dengan tekun. Sebagai benang untuk menjahit. Terlebih dahulu dimandikannya
ketiga anaknya. Dipakaian baju, barulah dia berangkat bersama ke pondok diujung
kampung. Tak lupa bekal air minum dan apa saja yang ada didapur sebagai
penganjal disiang hari.
Pondok itu diisi
lima belasaan ibu dan bapak yang ada dikampung. Mereka duduk berbaris diantara
sela-sela daun nipah. Tangan cekatan merangkai nipah di bilah bambu. Merajutnya
menggunakan lidi nipah muda yang telah dibuat. Tangan terampil seolah sudah
bekerja tanpa komando. Menjahit, menarik dan memasukkan daun nipah diatas
sebilah bulu.
Ya... hanya ini
penyambung hidup. Tubuh rentanya sudah tak sanggup bekerja yang lain. Bekerja diladang
atau dikebun hanya untuk yang bertubuh kuat. Raganya sudah tak sanggup dibawah
sang surya. Bila lama, biasanya kepala terasa berat dan mau jatuh. Beberapa kali
itu terjadi, sehingga tumpuan hidup ke 7 insan manusia ini hanya di daun nipah.
Ikatan besar daun
nipah digeser dan direbahkan. Diambil posisi duduk yang nyaman. Puluhan bilah
bambu disusun disamping. Satu bilah bambu diambil. Dua helai daun nipah
ditumpuk bersusun. Diletakkannya diujung bilah bambu. Setelah dilipat menjadi
dua, lidi nipah muda yang telah diraut ditusukkan. Persis seperti menjahit
baju. Begitu seterusnya hingga semua bilah bambu tertutupi daun nipah. Ukuran panjang
bilah bambu kurang lebih 210 cm. Lama menjahitnya tergantung kecepatan tangan
melipat dan menganyam. Jika sudah biasa tak cukup lima belas menit sudah jadi
satu atap nipah.
Upah satu lembar
atap nipah dihargai Rp.100. sedangkan harga jualnya mencapai Rp. 750. Si mak
sanggup membuat 20 lembar daun nipah jika duduk dari pagi sampai siang. Usia yang
tak lagi muda kadang membuat pinggangnya tak sanggup duduk terlalu lama.
Uang yang
diperolehnya dibagi untuk dapur dan sekolah si anak. Biasanya anak diberikan
Rp.500 sebagai ongkos untuk naik angkot ke sekolah. Sedangkan sisanya untuk
membeli beras dan lauk pauk dirumah. Seminggu sekali si mak, mengambil upahnya
dari juragan atap. Tak jarang si juragan menggatinya dengan beras ataupun
barang kebutuhan rumah tangga lainnya. Sabun cuci, telur, garam dan lainnya.
Dihari minggu Si
Sulung biasanya membantu si mak menjahit atap. Walaupun tak banyak, biasanya
hanya 5-7 lembar yang dia bisa rajut. Setidaknya bantuan itu memberikan
semangat bagi Si Mak bahwa anaknya tahu kondisinya saat ini.
Tak ada memang
jalan lain, hanya nipah yang saat ini memberikan berkah pada keluarga ini. Selagi
masih dipakainya nipah sebagai atap, disitulah rejeki datang. Akhir-akhir ini kata
juragan, penjualan sudah menurun, banyak orang beralih ke atap seng. Walaupun harganya
mahal tetapi dipakai dalam jangka waktu yang panjang. Sedang jika beratap
nipah, hanya tahan dua sampai tiga tahun.
Si emak hanya
mengelus dada, berharap pintu rejekinya masih terbuka di atap nipah. Tak tau lagi, harus bekerja apa. Anak masih
kecil-kecil, sementara tubuhnya sudah tak mampu bekerja. Hanya doa yang mungkin
ampuh mengobati semua derita. Hanya tangan Tuhan yang mampu agar mereka hidup
dan bertahan.
Doa emak, semoga
kelak anaknya dapat hidup layak dan berguna. Tak usah kaya, hanya hidup sebagaimana
mestinya saja. Dia juga membayangkan bagaimana nasib anaknya jika ia menyusul
sang suami. Entah, hanya Tuhan yang tahu... "Sebaik-baiknya menitip sesuatu
hanya kepada Tuhan. Dia tak mungkin lalai dan mengecewakan”, gumannya dalam
hati.
No comments:
Post a Comment